Peran Pelatih dan Pemain

Oleh Piet Burhannudin

04/02/2009

Setiap pertandingan merupakan potret diri orang yang menjadi pelatihnya. Berilah ciri keluhuran budi pelatih pada hasil karyanya.

Tugas pelatih adalah menciptakan suasana yang memungkinkan para asisten pelatih dan pemain mendapat peluang menjadi atau melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan. Pelatih dapat menciptakan lingkungan kerja yang kokoh dengan pelbagai cara.

  1. Beri setiap orang tanggung jawabnya masing masing. Pemain perlu merasa bahwa jika mereka tak mengerjakan tugasnya, maka tugas itu itu tak akan pernah selesai. Mereka juga perlu menyadari bahwa jika mereka mencapai sesuatu maka mereka akan mendapat bagian dari penghargaan yang diterima. Pencapaian akan menjadi tanpa batas jika semuanya merasa siapa yang mendapat penghargaan tidaklah penting benar; namun setiap orang berhak atas pengakuan.
  2. Perlihatkan bahwa pelatih peduli, bahwa pelatih memperhatikan setiap individu, bahwa pelatih memberi dukungan penuh dan senantiasa loyal. Sebelum bertindak pelatih harus dengan cermat mempertimbangkan konsekwensi setiap perilakunya. Pastikan tidak memperalat siapapun. Bersikap empatis guna meningkatkan saling pengertian. Berilah teladan punya keterikatan (commitment) yang dituntut pelatih kepada orang lain.
  3. Memberi bantuan mengambil keputusan. Ajarkan dan beri petunjuk cara mengambil keputusan yang diinginkan pelatih. Jangan sekali kali menggurui apa yang harus mereka lakukan, melainkan doronglah mereka untuk melalukan yang terbaik.
  4. Pandang mereka sebagai pemenang. Mereka akan menjelma menjadi pemenang sungguhan.
  5. Bertanding dengan menjaga keolahragawanan harus sama pentingnya dengan bertanding untuk menang. Tak ada rasa hormat yang hilang jika bermain dengan sopan dan santun. Anak anak yang "tumbuh dewasa ini lebih perduli tentang hak dan privileges, tidak kepada tanggung jawab atau kewajiban. Tanamkan kepada pemain konsep fair play, dan jangan tunggu lagi, lakukan sekarang juga, karena nama baik tidak terjadi selama apa yang harus dikerjakan masih berbentuk niat semata.
  6. Beri motivasi, penekanan dan penghargaan. Banyak pelatih berpengetahuan baseball sangat lengkap dan mampu mengajarkan keterampilan dan siasat tanding, namun untuk menjadi pelatih kompeten perlu lebih banyak dari itu saja. Pelatih yang baik sangat paham memberi motivasi. Mereka tahu bahwa penghargaan intrinsik adalah yang memberi kepuasan diri di dalam diri pemain sendiri.Pelatih yang baik mampu berempati. Bukan saja ia memahami tetapi juga dapat turut merasakan kegembiraan, keputus-asaan, kemarahan dan kekhawatiran para pemain. Perlihatkan rasa hormat kepada pemain dengan menunjukkan keperdulian.
  7. Hindarkan sesi sesi latihan berulang ulang yang membosankan. Baseball mestinya dapat memompa semangat baik pemain maupun pelatih. Bermain baseball harus memberi kegembiraan. Pelatih secara teratur mengubah latihan, bersikap penuh semangat, beri dorongan kepada pemain untuk memberi masukan, dan bermain baseball ketika berlatih. Setiap pemain harus punya peran penting di regunya. Karena pada suatu saat hanya sembilan orang saja pemain dapat main, pemain cadangan perlu merasa bahwa mereka punya peran di permainan. Tak seorangpun boleh hanya duduk dan menonton saja. Pemain dapat diminta membuat catatan di pitching chart, catatan tentang pertahanan atau penyerangan atau menangani official score book. Pemain lain dapat menggunakan stopwatch untuk mencatat waktu lawan maupun rekan seregu untuk membuat evaluasi kinerja secara objektip. Kunci agar mereka mau mengerjakan pekerjaan itu adalah agar pelatih dapat menunjukkan pentingnya semua itu dikerjakan demi kepentingan regu. Pemain harus mengerti bahwa pekerjaan itu dapat membantu regunya memenangi pertandingan.
  8. Menyusun rencana demi keberhasilan. Pelatih yang baik memandang dirinya pertama tama sebagai guru, baru kemudian sebagai pelatih. Semua pelatih perlu menyusun rencana untuk menghadapi musim kejuaraan di depan mata. Jika pelatih alpa menyusun rencana berarti ia membuat rencana kegagalannya sendiri dan regunya (if you fail to plan - you plan to fail, adagium ini dapat mulung ketika saya di IBM dulu!). Beberapa pelatih tak suka bagian tugas yang dipandangnya melelahkan. Mereka lebih suka mencari pemain dan berkompetisi.
  9. Sediakan waktu untuk melakukan tinjauan. Setelah selesai latihan atau bertanding, pelatih harus melakukan evaluasi ulang sesi latihan berkaitan dengan tujuan regu dan mutu serta kinerja. Untuk memfasilitasikannya , pelatih harus membuat catatan selama pertandingan atau latihan. Disarankan untuk meminta pencatat score (yang di bangku cadangan - bench) membuat catatan catatan di buku scoring selama pertandingan. Dalam pertemuan sesudah bertanding, pelatih dan regunya meninjau semua hal penting. Ingatlah selalu untuk tetap bersikap positip dan tidak mengkritik secara berlebihan. Orang dapat menerima krtitikan setelah menang bertanding, namun kalau baru saja dikalahkan, maka diskusinya akan menjadi lebih seret. Keseluruhan staf pelatih juga harus melakukan evaluasi atas dirinya sendiri setiap tahun guna menentukan titik titik lemah dan keunggulan yang dimiliki. Pelatih kepala yang bijak akan memberi tanggung jawab kepada masing masing asistennya, sehingga mereka dapat mencapai hasil berarti. Biarkanlah para pelatih melakukan tugasnya – melatih. Kemudian pada penghujung musim kejuaraan, mintalah mereka mengkritisi program yang sudah dijalankan. Para asisten selayaknya juga ikut memiliki program itu secara aktip dan tidak semata mata ikut perintah saja. Biarkan staf mengembangkan rencana untuk mengoreksi kelemahan kelemahan yang ada, meningkatkan keunggulan, dan biarkan mereka melaksanakan kerja yang perlu dilakukan untuk menjalankan rencana itu.
  10. Berkomunikasi. Demikian pentingnya komunikasi, sehingga kita akan membahasnya tersendiri.
Tags: